Sejarah Hidayatullah Bontang

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Sejarah Hidayatullah Bontang

Seperti halnya Cabang tertua Berau, cabang Bontang ini termasuk yang banyak sekali menggunakan petugas silih berganti.​

​Masuk lewat Berbas. 21 Januari 1982 Abdurrahman Muhammad dan Abdul Latief Usman ditugaskan dalam jangka satu bulan. 28 Februari 1982 kedua petugas ini dipanggil untuk memboyong istrinya ke tempat tugas.​

18 Maret 1982, Abdul Latief Usman ditarik kembali ke Balikpapan. Abdurrahman Muhammad masih tetap di Berbas. Abdul Madjid Aziz didampingi Bakhtiar Abdul Razak dan Abdul Haris Amin Bachrun ditugaskan ke Berbas untuk menangani Proyek Madrasah PP Hidayatullah pada  9 Juni 1982.​

​24 Oktober 1982  ditugaskan 3 orang bujang: Jazman, Jamaluddin Sinjai, Burhanuddin Noor (Pinrang). Menjelang pernikahan 28 Januari 1983 Jazman dipanggil pulang bersama Mursidi dan Abdurrahim Ambo Tang yang tugas di ITCI Kenangan. Abidin Sahab menggantikan posisi Jazman di Berbas.  Mansoer Aziz bersama keluarga ditugaskan di Berbas pada 18 Juli 1983 setelah Abdurrahman Muhamamd  di tarik ke Balikpapan.​

​Di tempat lain yang juga dalam wilayah Bontang, Lhok Tuan, Muhamamd Natsir memimpin sebuah madrasah dengan murid yang lumayan banyak. Namanya Madrasah Nurul Muttaqin.​

Anak yang sejak di Sulsel telah berkecimpung di dunia pesantren ini, datang menghadap Ustadz Abdullah Said di Balikpapan pada 31 Mei 1982. Dia melaporkan kondisi madrasahnya yang lumayan banyak muridnya sehingga kewalahan memenejnya. Dia sangat mengharapkan bantuan tenaga untuk membantu mengelolah madrasah itu.​

​Permohonan ini direspons positif oleh Ustadz Abdullah Said, dengan menugaskan Abdul Majid Aziz dan Ismail Kalosi serta M, Natsir sendiri untuk mengelola  madrasah itu.​

Disamping madrasah yang didirikan Muhammad Natsir yang telah ditempati Abdul Madjid Aziz dan Ismail Kalosi, kemudian menyusul Abdurrahim Ambo Tang Mattola dan istri, Zaenab 29  Januari 1983, 7 bulan setelah nikah, Abdul Madjid Aziz dan Muhammad Amin Abdul Fattah, seorang pebisnis  yang telah menggabung bermusyawarah untuk mendirikan pesantren. Sebuah mesjid di Lhok Tuan ingin dijadikan titik tolak  agar melibatkan masyarakat, tapi pengurus mesjid yang ada di Km 1 itu tidak setuju kalau mesjidnya mau dijadikan pesantren.​

Amin Fattah yang punya teman namanya Muhammad Noor kebetulan ada uangnya Pak Amin  yang belum dikembalikan sebanyak Rp 800.000,- Tanahnya yang ada di Km 8 seluas 1,5 Ha diminta Amin Fattah untuk diserahkan kepadanya dan uang Pak Amin  yang ada padanya tidak usah jadi pikiran lagi.​

Karena menurut rencana tanah itu ingin dijadikan pesantren, Muhammad Noor sangat senang dengan pengaturan itu. Karena utangnya sudah lunas dan merasa turut berjasa menyerahkan tanahnya untuk pesantren.​

​Walaupun menurut Amin Fattah sebenarnya uang yang ada pada M. Noor itu cukup banyak di tahun 80-an. Kalau dibelikan tanah di tempat lain bisa mendapatkan 3 Ha. Tapi hitungan-hitungannya tidak demikian, Muhammad Noor sebagai teman dan dia juga akan menjadi warga sehingga dianggap tepat saja dengan perhitungan demikian.​

​Di atas tanah itulah dimulai kegiatan pesantren. Sebagai tukang ahli Pak Madjid Aziz dengan segera berfikir bangunan. Mesjid segera dibangun kemudian gedung sekolah untuk Diniyah.​

​Peresmian cabang Lhok Tuan ini dilakukan oleh Pimpinan, Ustadz Abdullah Said pada Hari Minggu 1 Januari 1984. Dihadiri oleh Bapak Brigjen Aziz Taba. Komisaris Pupuk Kaltim.​

​Sebagai santri awal di Km 8 itu adalah Munawarah (istri Syafaruddin, pimpinan cabang Sangatta dan Mardianah (istri Ir. Sulaiman- arsitek Hidayatullah yang sudah almarhum), dll.​

​Dari Km 8 berkembang ke Gunung Sari, sebuah tempat yang dapat dijadikan sekretariat yang diwakafkan Pak Rauf, 10m x 7m. Sebagian dibeli. Abdul Madjid Aziz sekeluarga akhirnya pindah ke tempat itu.​

Amin Fattah setelah menempati rumah di Gunung Sari Luar itu menukar dengan tempat yang ada di Gunung Sari Dalam (kampus yang ada sekarang) dengan tanah milik H. Pua Edi seluas 1,5 Ha ditambah uang sebanyak Rp 74.000.000,- karena dianggap kurang strategis. Selain itu 0,5 Ha milik orang lain.​

​Setelah persiapan kampus baru ini sudah dapat dimasuki walaupun masih hutan belukar, Usman Palese berusaha memperluas kampus dengan membebaskan tanah seluas 3 Ha kemudian membangun sebuah mushalla mungil bersegi enam, filosofinya karena rukun Islam ada 6, asrama santri dan rumah untuk guru.​

​Sebelum bertugas di Bontang Usman Palese merintis di Cilodong Depok selama 6 bulan kemudian memasuki kampus Sempaja Samarinda 1984 -1985.​

Di zaman Amin Fattah yang ditugaskan menggantikan Usman Palese yang ditarik ke Balikpapan untuk menangani Baitul Maal, membangun 6 lokal madrasah. Di saat itu juga dibangun fondasi mesjid tapi kiblatnya kurang tepat akhirnya dibetulkan.​

Amin Fatah juga mengembangkan peternakan ayam kampung di Km 8. Seterusnya Muhamamd Amin Abdul Fattah di tugaskan ke Sangatta untuk merintis usaha bidang kontraktor dan merintis berdirinya cabang Sangatta.​

Di zaman Abdurrahman Muhammad yang sebelumnya bertugas di Irian Jaya, Bontang kian meningkat baik dari segi fisik yakni perluasan kampus dan bangunan juga pengembangan pendidikan dan pembinaan umat.​

Jamaluddin Ibrahim ditunjuk sebagai bendahara sekaligus belajar memimpin dari Abdurrahman Muhammad yang dikenal sangat tinggi komitmen kelembagaannya.​

Atas komando Abdurrahman Muhammad, seluruh personil yang ada disampingnya, bergerak seperti mesin. Sehingga banyak sekali kemajuan yang diperoleh. Terutama penertiban dalam kampus dan manuver da'wah. Jamaluddin Ibrahim sebagai tulang punggung selalu siap menunggu dan melaksanakan komando.​

​Pembangunan mesjid yang cukup besar dan indah itu dimulai pembangunannya di zaman Abdurrahman Muhammad. Spirit kelembagaan juga dirasakan sangat tajam karena pengarahan-pengarahan yang diberikan tidak pernah lepas dari koridor manhaj sistimatika nuzulnya wahyu.​

​Kepemimpinan di Bontang diteruskan oleh Jamaluddin Ibrahim. Cukup banyak perkembangan dibawah kepemimpinannya. Terutama penyelesaian mesjid besar.​

Putra asal Donggala ini semasa nyantri di Balikpapan ditugaskan mencari dana. Sehingga dunia pencarian dana adalah dunianya.​

Ada dua perusahaan besar di Bontang yakni PT Badak dan Pupuk Kaltim tokoh-tokohnya cukup mengenal baik Jamaluddin Ibrahim. Sehingga kalau kesulitan pendanaan segera bersilaturrahim kepada tokoh-tokoh kedua perusaan ini.​

​Zakat Infak dan Sadoqah dari kedua perusahaan ini cukup tinggi membuat perolehan ZIS terutama di bulan Ramadhan cukup tinggi dibanding dengan daerah-daerah lain.​

Jamaluddin Ibrahim juga memiliki jiwa bisnis yang agak tinggi sehingga kesempatan setiap menjelang 'Iedul Adha dimanfaatkan untuk menyediakan khewan qurban: sapi dan kambing.​

Perolehan dari penjualan hewan qurban ini cukup besar. Kelebihan yang lain yang dimiliki anak tunggal dari ayahnya ini mempunyai banyak tanah warisan dari ayahnya yang telah almarhum.​

Pendidikan juga cukup berkembang di bawah kepemimpinannya. Jenjang pendidikan Mulai dari TK, Madrasah Ibtidaiyyah hingga SMU telah berjalan baik karena lengkap dengan fasilitas gedung dan peralatan untuk memudahkan proses belajar mengajar. Rumah-rumah warga semua dibangun permanen dengan natura  yang cukup lumayan.

*******

Prakata
Pesantren Hidayatullah Bontang berdiri dengan dimotori oleh tenaga-tenaga muda potensial yang ditugaskan dari Hidayatullah Pusat Gunung Tembak dengan membawa misi menyebar rahmatan lilalamin di permukaan bumi khususnya di kawasan Bontang dan sekitarnya.

Perjuangan panjang yang tiada henti yang dilakukan perintis awal Hidayatullah Bontang membuahkan hasil yang terus menerus perlu disyukuri, kenapa tidak, awal menginjakkan kaki di Bontang pesantren Hidayatullah tidaklah langsung berdiri seperti yang kita saksikan hari ini, namun bertahun-tahun lamanya tempatnya belum menetap, berpindah dari satu rumah kerumah yang lain, dari satu masjid kemasjid berikutnya.

Berawal di Masjid Jami’ Loktuan KM 01 selama kurang lebih tiga tahun kemudian Pindah ke Jalan Poros Bontang Samarinda KM 08 yang hingga saat ini masih berdiri Hidayatullah di sana.

Kemudian pindah lagi ke Masjid Al Aqrabun Gunung Sari selama kurang lebih tiga tahun dan pada akhirnya mendapat tempat di Jalan Imam Bonjol yang di rintis oleh Ust Usman Palese Allahu Yarham yang hari ini menjadi pesantren kebanggaan masyarakat sekaligus menjadi icon Kota Bontang sebagai kota agamis.

Diawali dengan langkah-langkah sederhana yakni silaturrahim ke tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah dan perusahaan kemudian ditindak lanjuti dengan pengajian-pengajian, majelis taklim dan akhirnya melahirkan kesadaran bersama tentang pentingnya mendirikan sebuah lembaga dalam bentuk Pondok Pesantren.

Pondok pesantren yang nantinya menjadi pusat kendali dari kegiatan-kegiatan dakwah yang sudah berjalan dan tempat mendirikan lembaga pendidikan yang dapat menampung anak-anak yang ingin belajar mendalami ilmu agama, sekaligus keberadaan pesantren menjadi suaka generasi yang membentengi mereka dari serangan-serangan budaya sekuler yang cenderung memperutkan hawa nafsu.

Atas izin Allah Pesantren Hidayatullah mampu mewujudkan niat tersebut dengan membebaskan sebuah lahan setelaha berpetualang dari daerah satu ke daerah lain yang awalnya hanya kurang lebih satu hektar kemudian terus bertambah hingga saat ini secara keseluruhan lahan yang didiami Pesantren Hiayatullah Bontang seluas 5 hektar.

Kegiatan dimulai menampung anak-anak yatim piatu, terlantar, putus sekolah dan orang-orang yang tidak mampu yang berasal dari berbagai desa. Mereka didikik agar memiliki kemampuan berkiprah di tengah masyarakat, dengan bekal iman yang kokoh, akhlaq yang mulia serta kemampuan untuk hidup mandiri.

Dengan bantuan masyarakat, kegiatan  penyantunan yatim piatu, anak putus sekolah ditingkatkan menjadi  lembaga pendidikan yang dikelola secara profesional, dalam bentuk TK, SD, SMP, SMA serta lembaga diniah dan tahfidz.

II.    VISI PENDIDIKAN
       
“Mewujudkan Pendidikan Islam yang unggul dan mampu melahirkan insan yang  siap memikul amanah Allah Sebagai hamba dan khalifah-Nya”

III.    MISI

Misi Hidayatullah Kota Bontang dalam mewujudkan visinya adalah sebagai berikut :


  1. 1. Menyelenggarakan Pendidikan Integral, yang mengembangkan aspek Ruhiyah (spiritual), Aqliyah (intelektual) dan Jismiyah (fisik dan ketrampilan).
  2. 2. Menyiapkan calon-calon pemimpin masa depan.
  3. 3. Membantu meningkatkan mutu lembaga-lembaga pendidikan Islam.
  4. 4. Memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi kaum dhuafa (masyarakat yang lemah).


IV.    PROGRAM PENDIDIKAN
Program pendidikan yang saat ini dikelola Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang terdiri dari:

a.    Play Group “Hidayatullah”
Merupakan pendidikann pra sekolah yang bertujuan menanam kan kepribadian positif sejak usia dini. Metode pembelajaran telah dikembangkan mengikuti perkembangan pendidikan mutakhir, seperti penggunaan sistem sentra, kurikulum berbasis kompetensi dan sebagainya.

b.    MI Ar Riyadh Hidayatullah
Merupakan pendidikan setingkat Sekolah Dasar yang berada dibawah payung Kementerian Agama dengan memadukan kurikulum SD dan MI serta menyelenggarakan pendidikan khas belajar membaca dan menghafal al Qur’an dengan memakai metode tertentu.

c.    SMP dan SMA Integral (Boarding School)
Untuk tingkat menengah pertama maupun menengah atas diterapkan sistem asrama (boarding school). Siswa wajib tinggal di asrama. Dengan sistem ini, siswa memiliki waktu yang memadai untu memahami ajaran Islam lebih dalam, mengaplikasikannya dalam bimbingan guru dan belajar untuk hidup madiri.

V.    PROGRAM NON PENDIDIKAN
Disamping program pendidikan, Pesantren Hidayatullah Bontang juga memiliki program da’wah dan  sosial.

Program da’wah diwujudkan dalam bentuk, pengajian umum untuk orang tua dan masya rakat, pelayanan khutbah Jum’at, Pembinaan Taman-taman  Pendidikan Al-Qur’an di, menyelenggarakan training dan pelatihan dan sebagainya.

Sedangkan program sosial diwujudkan dalam bentuk: pemberian santunan kepada masyarakat yang tidak mampu, memberikan beasiswa siswa kurang mampu, pembinaan anak jalanan dan pemulung, menyelenggarakan pengobatan gratis, khitanan masal dan sebagainya.

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage