SEORANG anak bisa memperoleh nilai matematika sempurna, menghafal banyak pelajaran, dan memenangkan berbagai perlombaan. Namun, bagaimana jika ia mudah marah ketika dikritik, tidak mampu menerima kekalahan, sulit meminta maaf, atau memilih menyakiti temannya ketika keinginannya tidak terpenuhi? Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan akademik belum selalu berjalan seiring dengan kematangan emosi.
Dunia pendidikan memiliki pekerjaan penting yang sering luput dari perhatian, yakni, bagaimana membantu anak mengenali perasaan, mengendalikan reaksi, memahami keadaan orang lain, dan menyelesaikan perselisihan secara sehat. Dalam pendidikan, pendekatan ini dikenal sebagai Social and Emotional Learning (SEL), yaitu pembelajaran sosial dan emosional.
Kemampuan tersebut sangat dekat dengan nilai-nilai Islam. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan Nabi mulia ini menunjukkan bahwa kekuatan pribadi tidak hanya diukur dari kemampuan menguasai sesuatu, tetapi juga kesanggupan mengendalikan diri.
Anak perlu belajar bahwa marah adalah perasaan yang manusiawi, tetapi menyakiti orang lain bukanlah cara yang benar untuk mengekspresikannya. Ia juga perlu memahami bahwa berbeda pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan, dan meminta maaf tidak membuat seseorang kehilangan harga diri.
Hidup bersama teman dalam satu asrama, dalam lingkungan pendidikan, atau dalam sirkel pergaulan pasti akan menghadirkan berbagai situasi. Di sana mungkin harus berbagi fasilitas, menghadapi perbedaan kebiasaan, menyelesaikan kesalahpahaman, hingga belajar menghargai ruang pribadi orang lain. Semua itu merupakan kesempatan melatih empati dan kedewasaan.
Disinilah pula peran penting orang tua di rumah. Ketika anak bercerita tentang konflik dengan temannya, jangan terburu-buru menentukan siapa yang salah. Dengarkan lebih dahulu, tanyakan apa yang ia rasakan, kemudian ajak melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Biasakan pula mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menyampaikan ketidaksetujuan dengan santun.
Sekolah dan keluarga perlu berjalan searah. Guru membantu anak belajar hidup bersama, sedangkan orang tua memperkuatnya melalui keteladanan sehari-hari.
Kita tentu berharap anak tumbuh dengan prestasi yang membanggakan. Namun, akan jauh lebih membahagiakan ketika ilmu yang dimilikinya berjalan bersama hati yang lapang, sikap yang santun, dan kemampuan menghargai sesama. Sebab, kelak, keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi nilai yang diperoleh, tetapi juga oleh seberapa baik ia memperlakukan manusia di sekitarnya.
