SEORANG anak baru duduk di kelas satu SD, tetapi sudah sering mengeluh bosan, enggan mengerjakan tugas, atau gelisah ketika diminta belajar. Di rumah, ia bisa berlama-lama menatap layar, tetapi beberapa menit membaca buku terasa seperti pekerjaan yang berat.
Orang tua pun mulai bertanya: apakah ini akibat gadget, pola asuh, atau tuntutan sekolah yang terlalu cepat?
Jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu penyebab. Perhatian anak dipengaruhi banyak hal, mulai dari kualitas tidur, kondisi emosi, kesempatan bergerak, kebiasaan menggunakan layar, hingga cara pembelajaran disampaikan. Karena itu, anak yang mudah bosan tidak serta-merta malas, dan anak yang sulit fokus tidak otomatis mengalami gangguan tertentu.
UNICEF dalam kajian dasar kebiasaan daring anak Indonesia 2023 menemukan bahwa 50,3 persen anak yang diteliti pernah melihat gambar seksual di media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa ruang digital menghadirkan tantangan nyata bagi anak, meskipun angka tersebut tidak secara langsung membuktikan bahwa gadget menyebabkan rendahnya fokus belajar.
Di sinilah pendidikan anak usia dini perlu mendapat perhatian. PAUD bukan perlombaan agar anak secepat mungkin membaca, menulis, dan berhitung. Anak perlu membangun kemampuan berbahasa, mengelola emosi, bekerja sama, mengikuti aturan, dan mempertahankan rasa ingin tahu. Semua itu dapat dikembangkan melalui permainan yang dirancang dengan tujuan pendidikan.
Kurikulum PAUD yang berpusat pada bermain memungkinkan anak belajar menghitung melalui permainan jual beli, mengenal bahasa melalui cerita, atau berlatih menyelesaikan masalah ketika menyusun balok. Guru tetap merancang tujuan dan mendampingi prosesnya, tetapi anak memperoleh ruang untuk mencoba, bertanya, bergerak, dan menemukan.
Islam pun mengajarkan pentingnya memperhatikan tahap pertumbuhan dan memperlakukan anak dengan kasih sayang. Dalam QS. Ar-Rum ayat 54, Allah mengingatkan bahwa manusia melalui tahapan-tahapan perkembangan. Kesadaran ini mengajak kita mendidik dengan kesabaran, bukan memaksakan kemampuan yang belum siap tumbuh.
Orang tua dapat memulainya dari rumah: batasi penggunaan layar secara konsisten, sediakan waktu bermain di luar, bacakan cerita, libatkan anak dalam pekerjaan sederhana, dan beri kesempatan menyelesaikan tugas tanpa terus-menerus dibantu. Ketika anak mengeluh bosan, tanyakan apa yang terasa sulit sebelum buru-buru memarahinya.
Kita ingin anak mencintai ilmu sepanjang hidupnya. Jangan sampai langkah pertamanya di bangku sekolah justru membuat belajar terasa sebagai beban. Sebelum menuntut anak berlari lebih cepat, pastikan ia memiliki ruang untuk tumbuh, bermain, dan menemukan kegembiraan dalam belajar.
