ADA saat ketika seorang anak bertanya sederhana, “Ayah, siapa yang membuat hujan?” Pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Namun, di balik rasa ingin tahunya terdapat kesempatan berharga untuk mengenalkan cara memandang kehidupan.
Jawaban orang tua bukan hanya tentang awan, air, dan proses alam, melainkan tentang siapa yang mengatur seluruh keteraturan itu.
Pengajaran Tauhid sejak dini tidak cukup dikenalkan sebagai hafalan bahwa Allah adalah Tuhan. Anak perlu perlahan dibimbing memahami bahwa Allah adalah pusat dari cara ia melihat dirinya, alam, ilmu, rezeki, bahkan masa depannya. Dari sinilah worldview atau cara pandang terhadap kehidupan mulai terbentuk.
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan ciptaan Allah. Hujan yang menghidupkan tanah, tumbuh-tumbuhan, pergantian siang dan malam, serta beragam makhluk merupakan tanda-tanda yang mengarahkan manusia untuk mengenal kebesaran-Nya.
Ketika anak melihat tanaman tumbuh, orang tua dapat mengajaknya berpikir, bahwa manusia menanam dan merawat, tetapi siapa yang membuat benih itu hidup?
Percakapan semacam ini terasa sederhana, tetapi dampaknya panjang. Anak belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak harus menjauhkan dirinya dari Allah. Justru semakin ia memahami mekanisme alam, semakin terbuka kesempatan untuk menyadari keteraturan ciptaan-Nya.
Pembiasaan ini juga menjadi bagian penting dari pengasuhan. Sekolah dapat membangun disiplin, ibadah, dan tradisi keilmuan; rumah menjadi ruang untuk memastikan semua itu menemukan makna dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika anak pulang, jangan hanya bertanya tentang nilai dan prestasinya. Tanyakan apa yang membuatnya kagum, apa yang dipelajarinya, dan bagaimana ia melihat kebesaran Allah dari pengalaman tersebut.
Orang tua tidak perlu selalu memberikan jawaban panjang. Kadang cukup dengan mengajak anak memperhatikan hujan dari jendela, melihat langit malam, merawat tanaman, atau mengamati hewan. Dari sana, percakapan kecil dapat tumbuh menjadi kesadaran besar.
Tauhid yang tertanam kuat akan memberi arah ketika kelak anak memiliki ilmu, harta, profesi, atau kedudukan. Orang berilmu tidak hanya bertanya apa yang dapat diciptakannya, tetapi untuk apa ilmunya digunakan.
Menanamkan nilai nilai Tauhid tentang kepada siapa seluruh perjalanan hidup diarahkan adalah warisan terpenting yang dapat diberikan orang tua kepada anak.
