Informasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Lembaga Pendidikan Integral (LPIH) Bontang Tahun Akademik 2026-2027, Anda dapat menghubungi Whatsapp Centre 0811-5872-300, 0812-5660-8604

Anak Tumbuh dengan Keistimewaannya Sendiri


ADA
anak yang mudah memahami angka, ada yang senang merangkai cerita, ada yang terampil menggerakkan teman-temannya, dan ada pula yang lebih suka mengamati sebelum berbicara. Perbedaan itu terkadang membuat orang tua bertanya-tanya: mengapa anak saya tidak seperti anak yang lain? Padahal, justru di sanalah kita perlu belajar melihat anak dengan lebih jernih.

Setiap anak memiliki kecenderungan, minat, dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Tugas orang tua bukan menjadikan semua anak seragam, melainkan membantu mereka mengenali kemampuan, mengembangkannya, dan mengarahkannya agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, serta bermanfaat bagi sesama.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan dan kemampuan yang beragam. Allah berfirman, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya ikhtiar. Potensi perlu dikenali dan dilatih; ia tidak berkembang hanya karena pujian atau harapan orang tua.

Karena itu, ketika anak kurang menonjol dalam pelajaran tertentu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak memiliki kemampuan. Perhatikan pula bidang yang membuatnya antusias, kegiatan yang dikerjakannya dengan tekun, serta masalah yang membuatnya tertarik mencari solusi. Amati tanpa tergesa-gesa memberi label. Minat anak dapat berubah seiring pertumbuhan, dan bakat pun membutuhkan latihan agar menjadi kecakapan nyata.

Di lingkungan pendidikan seperti boarding school dan fullday school, anak memiliki kesempatan mencoba berbagai aktivitas, belajar bekerja sama, mengemban tanggung jawab, dan mengenali kekuatan maupun keterbatasannya. Wali murid dapat membantu dengan menjalin komunikasi bersama guru dan pengasuh. Tanyakan bukan hanya nilai akademik, tetapi juga perkembangan adab, kemandirian, minat, dan cara anak menghadapi kesulitan.

Di rumah, berikan ruang untuk mencoba hal baru. Dengarkan ceritanya, apresiasi prosesnya, dan bantu ia mengevaluasi kegagalan tanpa merendahkan dirinya. Jika anak menyukai bidang tertentu, fasilitasi sesuai kemampuan keluarga. Namun, tetap tanamkan bahwa bakat harus berjalan bersama kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan penghormatan kepada orang lain.

Arah pendidikan tetap penting. Orang tua perlu tegas dalam membimbing aqidah, ibadah, dan akhlak, sembari lapang dalam memberi ruang bagi pilihan serta potensi duniawi anak. Jangan sampai keinginan kita melihat anak berhasil justru membuatnya takut mencoba atau merasa hanya dicintai ketika berprestasi.

Mendidik anak adalah ikhtiar mengenali amanah yang Allah titipkan kepada kita. Kita membimbing, menyediakan kesempatan, dan mendoakan; sekolah turut mendampingi, sementara anak belajar menapaki jalannya sendiri. 

Semoga kita tidak terlalu sibuk membentuk anak sesuai bayangan kita hingga luput melihat kebaikan yang sesungguhnya sedang tumbuh dalam dirinya.