SEBAGAI orang tua, kita mungkin diam-diam menyimpan gambaran tentang masa depan anak kita. Ingin anak menjadi dokter, guru, pengusaha, hafiz, atau profesi tertentu yang dianggap baik. Harapan itu lahir dari cinta.
Namun kadang, tanpa disadari, harapan orang tua berubah menjadi ukuran yang membuat anak merasa gagal ketika tidak mampu memenuhinya.
Padahal anak datang kepada kita bukan sebagai lembar kosong yang bebas ditulisi seluruh keinginan orang tua. Ia membawa kecenderungan, karakter, kemampuan, dan jalan pertumbuhan yang tidak selalu sama dengan saudara atau bahkan dengan bayangan yang telah kita siapkan.
Dalam urusan aqidah dan akhlak, orang tua memang memiliki tanggung jawab untuk membimbing dengan tegas. Nilai tauhid, kejujuran, amanah, adab, ibadah, dan batas antara yang benar dan salah tidak semestinya diserahkan sepenuhnya kepada pilihan anak. Namun dalam perkara duniawi, ruang untuk mengenali keistimewaan anak perlu diberikan.
Rasulullah SAW mendidik para sahabat dengan mengenali kemampuan dan karakter mereka. Abu Hurairah dikenal kuat dalam meriwayatkan hadis, Khalid bin Walid memiliki kemampuan militer, dan Mu’adz bin Jabal dikenal dalam persoalan ilmu. Keragaman kemampuan itu tidak menjadikan mereka harus berjalan dengan cetakan yang sama.
Karena itu, ketika anak gagal pada bidang yang diharapkan orang tua, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya kemampuan anak, tetapi juga harapan kita.
Anak yang tidak menonjol dalam matematika atau hafalan belum tentu tidak memiliki kecerdasan. Anak yang tidak menyukai kegiatan tertentu mungkin justru memiliki bakat yang belum menemukan ruang. Tugas orang tua adalah membantu menemukan pintu itu.
Di lingkungan pendidikan atau asrama pondok menjadi ruang penting untuk proses tersebut. Di sana anak bertemu berbagai aktivitas, guru, teman, tantangan, dan pengalaman yang membantu mengenali dirinya.
Wali murid sebaiknya membangun komunikasi dengan guru dan pengasuh, bukan hanya menanyakan nilai, tetapi juga perkembangan karakter, minat, kebiasaan, dan hal-hal yang membuat anak bertumbuh.
Di rumah, berikan kesempatan anak mencoba. Perhatikan apa yang membuatnya tekun tanpa banyak disuruh. Dengarkan cerita tentang hal yang ia sukai. Jika ia gagal, jangan buru-buru memberi label. Bantu ia mengevaluasi, mencoba kembali, atau menemukan bidang lain yang lebih sesuai.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu padahal ia baik bagi kita, dan menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kita; Allah mengetahui, sementara manusia tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah: 216).
Mendidik anak membutuhkan ketegasan pada prinsip dan kelapangan hati terhadap jalan hidupnya. Kita membimbing, menyediakan ruang, memberi teladan, lalu mengiringinya dengan doa.
Sebab tugas orang tua bukan menentukan seluruh masa depan anak. Ada bagian yang hanya Allah tahu. Dan, salah satu bentuk cinta yang paling dalam adalah menemani anak menemukan jalan terbaiknya tanpa kehilangan arah yang benar.
