Informasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Lembaga Pendidikan Integral (LPIH) Bontang Tahun Akademik 2026-2027, Anda dapat menghubungi Whatsapp Centre 0811-5872-300, 0812-5660-8604

Tetap Jaga Kesehatan di Tengan Asap Kabut Karhutla


MENATAP
keluar jendela belakangan ini menghadirkan rasa sesak yang bertumpuk. Hingga pertengahan September ini, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti kawasan Kalimantan Timur, menutupi sinar matahari pagi dan menyisakan aroma kayu terbakar yang menusuk dada. 

Bagi para orang tua, bayangan tentang anak-anak yang harus beraktivitas di tengah kualitas udara yang memburuk sering kali memicu kecemasan tersendiri, terutama bagi mereka yang melepas buah hatinya di sekolah berasrama.

Dalam ajaran Islam, tubuh dan kesehatan adalah amanah mukmin yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa nikmat kesehatan sering kali baru terasa bernilai ketika ancaman hadir mengintai. 

Menjaga fisik agar tetap prima di tengah paparan asap bukan sekadar urusan medis, melainkan bagian dari bentuk ikhtiar spiritual untuk menjalankan kewajiban hidup secara optimal.

Khawatir adalah hal yang sangat manusiawi, namun menyikapi situasi ini membutuhkan ketenangan serta langkah nyata. Kemitraan antara rumah dan sekolah berasrama menjadi kunci utama dalam menjaga benteng kesehatan anak. 

Orang tua dapat mengambil peran aktif dengan membekali anak masker medis yang memadai, mengingatkan mereka untuk mencukupi kebutuhan air putih harian melalui pesan singkat, serta menyarankan agar mereka mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan untuk sementara waktu.

Langkah-langkah praktis tersebut melatih anak untuk memahami pentingnya menjaga diri sendiri tanpa harus larut dalam rasa panik. Ketika di rumah, kita bisa membiasakan penguapan sederhana atau menyediakan makanan bernutrisi tinggi yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Pembiasaan kecil ini menjadi bagian dari edukasi hidup sehat yang akan terus dibawanya hingga ke ruang-ruang asrama.

Ujian lingkungan berupa asap karhutla ini sejatinya memanggil kita untuk kembali menyadari betapa berharganya setiap helaan napas yang bersih. Ketika ikhtiar fisik diimbangi dengan keikhlasan dan doa yang tak putus dari rumah, kita sedang mengajarkan kepada anak-anak cara bertahan di tengah badai. 

Mendidik mereka menjaga diri adalah bentuk cinta paling mendalam, memastikan mereka tetap tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, sehat, dan senantiasa bersyukur atas setiap nikmat kebebasan bernapas yang Allah berikan.[]

AR RIYADH MEDIA CENTER