Informasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Lembaga Pendidikan Integral (LPIH) Bontang Tahun Akademik 2026-2027, Anda dapat menghubungi Whatsapp Centre 0811-5872-300, 0812-5660-8604

Bersih yang Dimulai dari Kebiasaan Kecil


DALAM
keseharian di rumah, perhatian kita tentu sering tertuju pada baju kotor yang menumpuk di pojok ruangan, lemari yang sesak oleh barang-barang tak terpakai, atau kebiasaan ananda menunda mandi hingga larut sore. 

Bagi sebagian orang tua, fenomena ini mungkin dianggap sekadar kemalasan khas remaja. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kebiasaan menimbun sampah dan kotoran bisa berkembang menjadi gangguan perilaku yang lebih rumit, seperti kecenderungan menimbun barang secara berlebihan (hoarding disorder).

Kebersihan sering kali dianggap urusan sederhana. Padahal bagi anak yang sedang tumbuh, cara merawat tubuh dan ruang tempat tinggal merupakan bagian dari proses belajar bertanggung jawab.

Islam memiliki perhatian kuat terhadap kebersihan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kebersihan berkaitan erat dengan kehidupan seorang Muslim. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan, “Bersuci itu separuh keimanan.” 

Pesannya bukan hanya tentang bersuci dalam konteks ibadah, tetapi juga tentang kesadaran menjaga keadaan diri agar siap menjalani kehidupan dengan baik.

Karena itu, mandi teratur, menjaga pakaian tetap bersih, merapikan tempat tidur, membersihkan kamar, dan membuang sampah pada tempatnya sebaiknya tidak menunggu perintah. Anak perlu mengalami bahwa kebersihan adalah kebiasaan, bukan hukuman setelah melakukan kesalahan.

Di boarding school, pembiasaan semacam ini menemukan ruang yang sangat nyata. Anak hidup bersama orang lain sehingga kebersihan kamar, asrama, kamar mandi, dan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama. Membiarkan sampah tergeletak berarti memindahkan beban kepada orang lain. Dari kebiasaan kecil itu, anak belajar bahwa hidup bersama membutuhkan kepedulian.

Orang tua dapat meneruskannya di rumah. Ketika anak pulang, biarkan ia ikut membereskan barang bawaannya, memilah pakaian kotor, membersihkan ruang pribadi, dan menata kembali barang yang digunakan. Tidak semua benda harus disimpan. Barang yang sudah tidak diperlukan dapat dipilah untuk dibuang, didaur ulang, atau disedekahkan jika masih layak.

Untuk membantu anak membangun kebiasaan ini, orang tua dapat memulai dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten di rumah.

Pertama, tetapkan batasan tegas mengenai kebersihan kamar tanpa perlu membentak. Libatkan anak dalam menyortir barang-barang secara berkala, memisahkan mana yang masih dibutuhkan dan mana yang harus dibuang atau disedekahkan.

Kedua, bangun rutinitas harian yang jelas, seperti mewajibkan mandi pagi sebelum beraktivitas dan mandi sore tepat waktu.

Ketiga, berikan contoh nyata dalam menjaga kebersihan fasilitas bersama di rumah, sebab keteladanan orang tua adalah cermin paling jernih bagi anak.

Mendidik anak untuk hidup bersih dan teratur adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran. Setiap tumpukan baju yang berhasil dirapikan dan setiap sampah yang dibuang pada tempatnya adalah langkah kecil menuju kedewasaan dan kebersihan jiwa ananda.

AR RIYADH MEDIA CENTER