Informasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Lembaga Pendidikan Integral (LPIH) Bontang Tahun Akademik 2026-2027, Anda dapat menghubungi Whatsapp Centre 0811-5872-300, 0812-5660-8604

"Assalamu ‘Alaikum", Doa yang Menghangatkan Perjumpaan


KADANG
dua orang duduk berdekatan, tetapi terasa sangat jauh. Mata sibuk menatap layar, jari bergerak di atas gawai, sementara orang di sebelahnya berlalu tanpa sapaan. 

Teknologi membuat komunikasi semakin mudah, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin akrab. Ada percakapan yang ramai di ruang digital, sementara sapaan sederhana di lingkungan sendiri justru makin jarang terdengar.

Di tengah keadaan seperti itu, mungkin kita perlu menghidupkan kembali sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan seorang Muslim: “Assalamu ‘alaikum”.

Salam bukan sekadar kebiasaan membuka percakapan. Ia adalah doa. Ketika seorang Muslim mengucapkan salam, ia sedang mendoakan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi orang yang ditemuinya. 

Al-Qur’an bahkan memberikan perhatian khusus terhadap salam. Allah berfirman, “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa: 86).

Ada pesan sosial yang kuat di dalamnya, bahwa, kehadiran orang lain patut diakui, dihormati, dan disambut dengan kebaikan.

Bagi anak-anak di boarding school, kebiasaan ini sangat berharga. Mereka hidup dalam komunitas yang mempertemukan banyak karakter, latar belakang, dan kebiasaan. 

Salam dapat menjadi latihan sederhana untuk membangun keberanian menyapa, menghargai sesama, mengikis jarak, dan menjaga suasana pergaulan tetap hangat. 

Seorang anak yang terbiasa mengucapkan salam kepada guru, teman, petugas kebersihan, maupun orang yang lebih tua sedang belajar bahwa setiap manusia layak diperlakukan dengan hormat.

Kebiasaan itu akan lebih kuat bila menemukan teladan di rumah. Orang tua dapat memulainya dari hal yang sangat sederhana seperti mengucapkan salam ketika masuk rumah, menelepon anak, bertemu pasangan, atau memulai percakapan. Jangan biarkan salam hanya menjadi formalitas yang diucapkan tanpa rasa.

Lebih jauh, salam mengajarkan kita memasuki perjumpaan dengan prasangka baik. Ketika kita menyapa seseorang dengan doa keselamatan, kita sedang membuka pintu interaksi dengan niat damai, bukan kecurigaan. Dari sana, optimisme dan kegembiraan bertumbuh.

Mungkin dunia tidak akan berubah hanya karena kita kembali rajin mengucapkan salam. Namun sebuah rumah bisa menjadi lebih hangat. Sebuah kelas bisa terasa lebih akrab. Sebuah asrama bisa menjadi lebih manusiawi. Pertemanan menjadi lebih kuat.

Barangkali perubahan besar memang sering dimulai dari sesuatu yang kecil. Dari satu suara yang mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum,” lalu hati yang menjawabnya dengan doa yang sama.[]

AR RIYADH MEDIA CENTER