ADA orang tua yang menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk bertemu anaknya beberapa jam. Sesampainya di pesantren, waktu terasa berjalan lebih cepat. Anak dijemput, dibawa makan, diajak berbincang, mungkin dibelikan sesuatu yang disukai, lalu tiba waktunya kembali. Belum sempat menuntaskan cerita, perjumpaan sudah harus berakhir.
Dalam keadaan seperti itu, penjengukan sebenarnya bukan perkara berapa banyak tempat yang sempat didatangi atau berapa banyak makanan yang dibawa pulang. Yang lebih penting adalah apa yang dirasakan anak ketika bersama orang tuanya. Apakah ia merasa didengar, diterima, dirindukan, dan tetap memiliki rumah sebagai tempat bertumbuh.
Masa di pesantren mengajarkan anak banyak hal yang tidak selalu mudah. Ia belajar mengatur waktu, hidup bersama orang lain, menanggung konsekuensi dari pilihan, menyelesaikan persoalan tanpa selalu didampingi orang tua. Karena itu, ketika kesempatan bertemu datang, anak tidak selalu membutuhkan banyak nasihat. Kadang ia hanya ingin bercerita tanpa segera dikoreksi.
Al-Qur’an menggambarkan doa orang beriman, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyenang hati.” (QS. Al-Furqan: 74).
Menjadi penyejuk hati anak bukan berarti memenuhi seluruh keinginannya. Ada kalanya bentuk kasih sayang justru berupa telinga yang sabar, pelukan yang tulus, dan keyakinan bahwa anak sedang berproses.
Wali murid dapat memanfaatkan waktu singkat itu dengan sederhana. Kurangi pertanyaan bertubi-tubi tentang nilai, hafalan, atau kesalahan. Tanyakan apa yang membuatnya senang, apa yang sedang sulit, dan siapa yang membantunya ketika menghadapi masalah. Makanlah bersama tanpa tergesa-gesa. Jika ada persoalan yang perlu dibicarakan, pilih waktu ketika emosi telah tenang.
Yang tak kalah penting, jangan menjadikan penjengukan sebagai ruang membandingkan anak dengan saudaranya atau teman-temannya. Anak pesantren tetap membutuhkan rumah yang membuatnya merasa aman untuk pulang, bukan tempat yang membuatnya merasa harus selalu tampil sempurna.
Barangkali waktu bersama anak memang tidak sampai 24 jam. Namun kedekatan tidak selalu diukur oleh lamanya pertemuan. Satu percakapan yang sungguh-sungguh, satu pelukan yang menenangkan, atau kalimat sederhana, “Ayah dan Ibu senang melihat kamu terus belajar,” bisa tinggal jauh lebih lama dalam ingatan.
Pesantren mendidik anak untuk tumbuh mandiri. Keluarga membantu agar kemandirian itu tidak kehilangan arah. Di antara keduanya, ada perjumpaan-perjumpaan singkat yang sebaiknya tidak dilewatkan sebagai rutinitas. Sebab, bagi seorang anak, pulang sebentar kepada orang tua bisa menjadi cara untuk menguatkan hati sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
AR RIYADH MEDIA CENTER
