AROMA sangit yang menyusup pelan melalui celah jendela pada pertengahan Agustus ini membawakan kabar yang kurang bersahabat. Di berbagai penjuru Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, ancaman kebakaran hutan dan lahan kembali membayangi keseharian kita.
Ketika langit perlahan berubah muram oleh kabut tipis, ada rasa cemas yang hadir, terutama bagi para orang tua yang membayangkan kondisi pernapasan anak-anak mereka di sekolah berasrama.
Dalam ajaran Islam, alam semesta adalah amanah yang dititipkan kepada manusia sebagai pengelola bumi. Kerusakan yang terjadi tak jarang berawal dari kelalaian kecil yang diabaikan.
Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya sikap waspada dan berhati-hati, termasuk petunjuk beliau untuk memadamkan api dan memastikan sumber energi aman sebelum tidur. Pesan Nabi ini melampaui sekadar petunjuk teknis, melainkan sebuah ikhtiar aktif untuk melindungi kehidupan dan lingkungan sekitar dari bahaya yang dapat dicegah.
Potensi kebakaran tidak hanya mengintai dari lahan kering di kejauhan, tetapi juga dari kecerobohan di sekitar kita. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial dalam membangun kebiasaan bijak di rumah. Kita bisa memulainya dengan hal-hal sederhana, seperti memeriksa kembali instalasi listrik rumah secara berkala, memastikan kompor mati sempurna setelah digunakan, serta mengedukasi anak untuk tidak membakar sampah sembarangan.
Kebiasaan kecil yang ditunjukkan secara konsisten oleh orang tua akan diserap oleh anak sebagai standar keselamatan hidup mereka. Ketika nilai kepedulian ini hidup di rumah, anak-anak akan membawanya hingga ke lingkungan dimana mereka berada. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka terhadap kebersihan, tidak sembarangan menumpuk barang mudah terbakar, dan berani melapor jika melihat potensi bahaya di lingkungan sekolah.
Sinergi antara kewaspadaan keluarga di rumah dan kedisiplinan pengasuhan di asrama membentuk benteng pertahanan yang kuat dari bencana. Menjaga keselamatan lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari ikhtiar menjaga jiwa dan keturunan.
Saat kita mengajarkan anak untuk menghargai setiap jengkal tanah dan udara yang mereka hirup, kita sedang membekali mereka akhlak mulia terhadap alam. Kesiapsiagaan bersama adalah wujud nyata dari kasih sayang, memastikan generasi mendatang tetap dapat tumbuh dan belajar di bawah langit yang bersih dan aman.[]
AR RIYADH MEDIA CENTER
