Informasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Lembaga Pendidikan Integral (LPIH) Bontang Tahun Akademik 2026-2027, Anda dapat menghubungi Whatsapp Centre 0811-5872-300, 0812-5660-8604

Maulid Nabi dan Tanggung Jawab Menjaga Ingatan tentang Palestina


ADA banyak cara orang tua mengenalkan Rasulullah SAW kepada anak. Kita menceritakan akhlaknya, perjuangannya, kelembutannya kepada keluarga, kasih sayangnya kepada anak-anak, lalu mengajarkan shalawat yang perlahan mereka hafal. Namun ada satu bagian dari perjalanan Rasulullah yang sesungguhnya penting untuk terus dikenalkan, yakni, hubungan beliau dengan Baitul Maqdis.

Hari ini, Selasa, 25 Agustus 2026 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 H, saat umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Momentum ini dapat menjadi ruang untuk mengajak anak memahami bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak berhenti pada kisah tentang pribadi beliau. Ada sejarah, tempat suci, dan umat manusia yang menjadi bagian dari perhatian seorang Muslim.

Al-Qur’an mengabadikan perjalanan Isra Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, tempat yang disebut Allah telah diberkahi sekelilingnya (QS. Al-Isra: 1). Al-Aqsa karena itu bukan nama yang asing dalam pendidikan keislaman. Ia terhubung langsung dengan perjalanan Nabi dan menjadi bagian penting dari sejarah umat Islam.

Di sinilah kita orangtua memiliki peran dalam memahamkan anak anak kita tentang negeri para nabi itu. Ketika Palestina dibicarakan, mereka perlu dibantu agar tidak sekadar mengenal konflik dari potongan gambar atau berita. Mereka perlu memahami bahwa di balik istilah Al-Quds, Palestina, dan Al-Aqsa terdapat sejarah panjang, tempat suci, serta manusia yang memiliki hak untuk hidup dengan aman dan bermartabat.

Percakapan itu dapat dimulai sederhana di rumah. Orang tua bisa mengajak anak membaca kisah Isra Mi’raj, menunjukkan letak Al-Aqsa pada peta, kemudian membicarakan penderitaan rakyat Palestina dengan bahasa yang sesuai usia. 

Setelah itu, ajak mereka mendoakan saudara-saudara Muslim dan seluruh manusia yang terdampak konflik. Dengan begitu, kepedulian tidak berubah menjadi kemarahan yang membutakan, melainkan tumbuh sebagai rahmah, kesadaran, dan keberpihakan kepada keadilan.

Pesantren pun memiliki ruang yang besar untuk menjaga ingatan ini melalui kajian, sejarah, doa, literasi, dan pembentukan karakter. Anak perlu belajar bahwa mencintai Rasulullah berarti berusaha membawa akhlaknya dalam menghadapi persoalan manusia.

Maulid bukan hanya kesempatan untuk memperbanyak shalawat dan mengenang kelahiran Nabi. Ia juga saat yang baik untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah cinta kepada Rasulullah telah membuat hati kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain?

Jangan biarkan Al-Aqsa menjadi sekadar nama dalam buku pelajaran. Selama Palestina masih menyimpan luka, biarlah anak-anak kita tumbuh dengan ingatan bahwa ada tempat yang dicintai dalam sejarah kenabian, ada manusia yang membutuhkan kepedulian, dan ada keadilan yang tidak boleh kita lupakan.

AR RIYADH MEDIA CENTER