KECERDASAN buatan (Artificial Intelligence) tak lagi sekadar alat bantu ketik. Di ruang publik digital kita, AI telah menjelma menjadi penjawab instan atas keraguan yang mencuat. Cukup berikan petunjuk sederhana, mesin akan merangkum puluhan ayat dan hadis dalam hitungan detik. Praktis, tetapi di sanalah letak ujian etisnya.
Islam tidak pernah memusuhi kemajuan. Sejarah mencatat bagaimana peradaban Islam menjadi pelopor ilmu pengetahuan karena keterbukaan para ulama terhadap kemajuan di zamannya. Namun, ada satu garis tegas yang membedakan pengetahuannya mesin dengan ilmunya manusia, yaitu adab dan sanad.
Ketika Rasulullah SAW mendidik para sahabat, ilmu tidak sekadar ditransfer sebagai tumpukan data. Ia ditransmisikan melalui tatap mata, kehangatan empati, dan keteladanan moral (talaqqi). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari hamba-hamba-Nya, melainkan Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama."
Hadis ini menegaskan bahwa roh dari ilmu terletak pada keberkahan hidup sang alim, pada kesalehan, kerendahan hati, dan ketakutannya kepada Allah. AI mungkin memiliki jutaan memori, tetapi ia tidak memiliki hati. Ia bisa menyusun teks doa, tetapi tidak bisa merasakan kekhusyukan dan kepasrahan air mata saat berdoa.
Risiko terbesar di persimpangan AI dan Islam bukanlah keberadaan teknologinya, melainkan potensi dangkalnya pemahaman kita. Ketika kita menggantungkan bimbingan spiritual sepenuhnya pada algoritma, kita berisiko kehilangan jalinan sanad keilmuan dan kepekaan sosial.
Lebih jauh lagi, di tengah maraknya konten buatan mesin mulai dari informasi yang belum terverifikasi hingga manipulasi deepfake, prinsip tabayyun yang diperintahkan dalam Al-Qur'an menjadi semakin krusial:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6).
Menghadapi gelombang kecerdasan buatan, kita tidak boleh bersikap reaktif apalagi menolaknya secara buta. AI adalah alat (wasilah), dan kualitas hasilnya sangat bergantung pada siapa yang memegangnya.
Jika ia berada di tangan jiwa yang beradab, AI bisa menjadi sarana syiar yang melintasi batas negara. Namun jika ia dipegang oleh jiwa yang kosong dari nilai etika, ia hanya akan menjadi pabrik narasi palsu dan pendangkal akal sehat.
Mari kita jadikan teknologi ini sebagai pelayan bagi kemanusiaan, bukan majikan atas spiritualitas kita. Gunakanlah kecerdasan buatan dengan bijak. Jadikan ia alat untuk mempercepat kerja, namun tetap jadikan Wahyu Ilahi dan bimbingan ulama yang beradab sebagai kompas hidup.
Sebab, pada akhirnya, di hadapan Allah kelak, yang dimintai pertanggungjawaban bukanlah seberapa canggih mesin yang kita ciptakan, melainkan seberapa jujur dan beradab kita menggunakan setiap nikmat akal yang telah Dikaruniakan-Nya.[]
AR RIYADH MEDIA CENTER
