HARI ini, Selasa 28 Juli 2026, tanpa terasa langkah kaki kita telah menapak pada hari ke-13 bulan Safar 1448 Hijriah. Di pertengahan bulan ini, mari sejenak melambatkan ritme kehidupan yang bising untuk merenungi perjalanan hati.
Secara psikologis, manusia kerap mencari penjelas atas kecemasan dan nasib buruk yang menimpanya. Dahulu, masyarakat Jahiliyyah meyakini Safar sebagai bulan penuh kesialan, bencana, dan musibah (thiyarah). Bayang-bayang mitos ini terkadang masih tersisa dalam prasangka sebagian masyarakat kita hari ini. Padahal, benarkah ada bulan yang diciptakan khusus membawa sial?
Islam hadir bukan untuk mempertebal rasa takut pada makhluk atau waktu, melainkan untuk memerdekakan jiwa hamba-Nya. Rasulullah SAW secara tegas meruntuhkan mitos Jahiliyyah ini dalam sabdanya:
"Tidak ada penularan penyakit (secara mandiri tanpa takdir), tidak ada firasat sial (thiyarah), tidak ada burung hantu penanda kematian, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar" (HR. Bukhari dan Muslim)
Setiap detik yang diciptakan Allah Ta'ala pada hakikatnya adalah netral. Mulia atau buruknya suatu waktu sangat bergantung pada amalan yang kita tanam di dalamnya. Al-Qur'an pun menegaskan bahwa setiap ketetapan berada penuh di tangan-Nya:
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah..." (QS. At-Taghabun: 11)
Menuding bulan Safar sebagai sumber bencana justru mencederai kebersihan tauhid dalam dada. Prasangka buruk (su'udzon) pada waktu hanyalah benteng ilusi yang menghalangi kita dari ketaatan.
Catatan Emas Sejarah Nabi
Jika kita menyelami Sirah Nabawiyah, bulan Safar justru bertabur peristiwa agung yang menjadi titik balik peradaban Islam. Bulan ini adalah awal perjalanan hijrah Nabi. Rasulullah SAW menyusun strategi dan memulai langkah awal perjalanan monumental menuju Madinah pada akhir bulan Safar.
Di bulan ini pula pernikahan penuh barakah dimana Rasulullah SAW menikahkan putri tercintanya, Sayyidatuna Fatima RA, dengan Ali bin Abi Thalib RA di bulan Safar. Dan, ada kemenangan Khaybar sebagai kemenangan besar Umat Islam juga terukir manis dalam lembaran sejarah Safar.
Bagaimana mungkin bulan yang menaungi peristiwa-peristiwa penuh berkah ini kita rasakan sebagai kesialan?
Saudaraku, waktu terus mengalir tanpa menanti siapapun. Hari ini, di pertengahan bulan Safar, adalah momentum berharga bagi kita untuk membuktikan bahwa hambatan terbesar bukanlah pada nama bulan, melainkan pada kelalaian niat kita sendiri.
Mari jadikan sisa hari di bulan Safar ini sebagai lapangan memperbanyak amalan dengan menguatkan hubungan dengan Sang Pencipta: Mari perbaiki kualitas shalat, basahi lidah dengan dzikir, dan perbanyak istighfar kita.
Sebarkan manfaat bagi sesama. Ulurkan tangan melalui sedekah, senyuman, dan bantuan nyata bagi mereka yang sedang kesulitan. Dan, teruslah menebarkan kedamaian. Jauhi prasangka buruk, baik kepada takdir Allah maupun kepada sesama manusia.
Jangan biarkan hari-hari kita berlalu dalam kecemasan yang berselimut mitos. Mari hiasi bulan Safar ini dengan ketaatan yang tulus dan karya yang berdampak. Sebab pada akhirnya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, kapan pun dan di mana pun ia berada.[]
AR RIYADH MEDIA CENTER
