Informasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Akademik 2024-2025, Anda dapat menghubungi Whatsapp Centre 0811-5872-300, 0812-5660-8604

Guru adalah Pengemban Misi Dakwah Para Nabi



TUNTUTAN seorang guru bukan sekadar menghabiskan materi untuk mengejar target kurikuler dan nilai tinggi pada setiap ulangan siswanya, tetapi peran yang lebih besar berada dipundaknya sebagai penerus risalah kenabian mempersiapkan generasi Rabbani.

Harus diketahui bahwa peperangan akan terus berkecamuk sepanjang masa antara kebenaran dan kebathilan, entah itu peperangan dalam bentuk konfrontasi fisik melalui senjata atau peperangan melalui pemikiran.

Perang pemikiran biasa diistilahkan ghazwul fikri. Serangan musuh terhadap pemikiran umat Islam tidak akan pernah berhenti sampai mereka berhasil merubah apa yang ada pada umat Islam sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan hal-hal yang benar darinya karena telah tercampur aduk dengan hal-hal yang tidak Islami.

 Allah Ta’ala menegaskan hal ini  dalam firmannya yang artinya sebagai berikut:

 “…mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal dih dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 217).

Diantara tujuan serangan pemikiran adalah menjauhkan umat Islam dari al Quran dan as Sunnah. Sebuah fakta, bahwa dalam Kongres Misionaris tahun 1935, Samuel Zweimer, seorang Yahudi pemuka kaum Zending yang juga Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi di mana hadir para utusan agen yahudi dari seluruh dunia.mengatakan di hadapan para peserta bahwa:

“Sebenarnya tugas kalian bukan mengeluarkan orang-orang Islam dari agamanya menjadi pemeluk agama kalian. Akan tetapi menjauhkan mereka dari agamanya (al-Quran dan Sunnah). Sehingga mereka menjadi orang-orang yang putus hubungan dengan Tuhannya dan sesamanya (saling bermusuhan), menjadi terpecah-belah dan jauh dari persatuan. Dengan demikian kalian telah menyiapkan generasi-generasi baru yang akan memenangkan kalian dan menindas kaum mereka sendiri sesuai dengan tujuan kalian”. 

 Agar misi ini berhasil, maka mereka memalsukan ajaran Islam dengan menafsirakn ayat berdasarkan nafsu, menyesatkan pemeluknya dengan ritual-ritual jahiliyah yang tidak ada tuntunan dari Rasulullah, serta menebarkan keraguan atas kemurnian ajaran Islam dengan isu-isu pluralisme, kesamaan gender, hak asasi manusia, dan lain-lain.

Indikasi dari kekalahan dalam serangan pemikiran ini adalah manakala paradigma berfikir seorang muslim tidak lagi memakai sudut pandang al Qur’an dan as Sunnah dalam setiap urusannya  sehingga mereka kehilangan ciri khasnya sebagai orang beriman.          

Kenyataan pahit ini menjadi fakta yang tidak terbantahkan. Kebanyakan manusia termasuk umat Islam sendiri telah terporosok pada kesalahan besar dengan mengikuti pola pemikiran musuh-musuh Islam, lalu menjadi pengekor dan bahkan menjadi pendukung dalam menyerang umat Islam.

Generasi baru yang tercerahkan perlu dipersiapkan sejak dini sebagai cikal bakal generasi yang akan melakukan perlawanan dari serangan pemikiran musuh-musuh Islam. Hal ini akan efektif bila dilakukan melalui sebuah gerakan yang direkayasa, terkoordinir dan menyeluruh secara istiqamah.

Gerakan ini mungkin terjadi jika dilakukan melalui pendidikan yang mengambil peran dakwah. Pendidikan yang misi keberadaannya sebagaimana dimaksud di atas tentu arah dan tujuan pencapaiannya adalah lahirnya manusia yang menyadari hakikat dirinya selaku hamba Allah dan khahlifah-Nya yang dipersiapkan untuk menjadi penyeruh kepada kebaikan dengan mengerahkan segala potensi yang dimilikinya.

Disinilah peran strategisnya seorang guru yang dapat membuat rancangan yang saling bersinergi antara orangtua, guru itu sendiri, kurikulum dan sumber daya pendukung pendidikan yang lainnya. 

Karena itu, tuntutan seorang guru bukan sekadar menghabiskan materi untuk mengejar teget kurikuler dan nilai tinggi pada setiap ulangan siswanya, tetapi peran yang lebih besar berada dipundaknya sebagai penerus risalah kenabian mempersiapkan generasi rabbani.

Yakni, generasi tercerahkan yang dekat dengan Allah, komitmen terhadap agamanya, pada al Qur’an dan as Sunnah menjadi inspirasi gerakannya. Bukan generasi pengekor pemikiran barat yang menjadikan nafsu sebagai tuhannya.*

__________
*) UST FIRDAUSpendidik di Pesantren Hidayatullah Bontang Kaltim