BUKA HATI DENGAN PENDIDIKAN TAUHID


Slogan “Buka hati dengan pendidikan tauhid”  yang diperkenalkan oleh Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Bontang tidak hanya menarik untuk dibaca dan indah ketika diucapkan, tetapi slogan tersebut hakikatnya adalah pijakan dasar atau pondasi utama dalam mengembangkan pendidikannya sekaligus menjadi tujuan utamanya.


Pendidikan tauhid bukanlah sesatu yang baru,  karena sudah ada bersamaan diciptakannya manusia oleh Allah Subhana wata'ala. 



Bukankah Allah Subhana wata'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)



Disinilah kehebatannya konsep pendidikan Islam dibanding dengan konsep-konsep pendidikan di luar  Islam yakni pendidikan islam bersifat rabbaniah. Rabbaniah dalam tujuanya, rabbaniah dalam manhajnya, rabbaniah dalam metodenya, rabbaniah dalam uslub dan caranya. Sehingga keseluruhan bangunannya dapat dipastikan kebenarannya.



Apa jadinya jika sebuah lembaga pendidikan tidak jelas dari mana sumbernya, tidak pasti dasar pijakannya, belum jelas tujuannya akan kemana, tidak ada kepastian kebenarannya, maka ibarat sebuah bahtera yang terombang-ambing dismudera yang luas dan dalam, tidak pernah benar-benar sampai pada tujuan.



Sifat pertama pendidikan islam adalah rabbaniah dalam tujuan pendidikan sebagaimana Allah Subhana wata'ala menjelaskan dibanyak ayat bahwa tujuan penciptaan manusia adalah dalam rangka beribadah kepada-Nya.



Rabbaniah dalam tutuan pendidikan disini maksunya adalah, tujuan pendidikan itu ditentukan langsung oleh Allah Subhana wata'ala tanpa intervensi manusia sedikitpun, sehingga kita hanya menerima sepenuhnya bahwa seluruh ikhtiar pendidikan baik yang tertuan secara tertulis atau terimplementasikan dalam praktek dilapangan, semuanya itu dalam rangka mewujudkan tujuan asasi penciptaan manusia oleh Allah Subhana wata'ala.



Penjelasan ini bukan berarti mengabaikan aspek-aspek yang lain, seperti aspek sosial, aspek emosi, aspek intelektualitas tetapi apapun yang dilakukan dalam sebuah ihktiar pendidikan adalah dalam rangka mewujudkan tujuan penciptaan manusia.



Konsep pendidikan ini sesungguhnya adalah realisasi dari pendidikan para nabi dan rasul, mereka diutus oleh Allah menjadi guru dizaman mereka dan umat saat ini dalam rangka mewujudkan penyembahan yang tulus hanya kepada Allah ta'ala, kalau bukan karena itu maka tidak ada nabi dan rasul yang diutus.



Al Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rohimahullah- mengatakan, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mengutus para rasulNya –‘alaihimush sholatu was salaam-, telah menurunkan kitab-kitabNya, telah menciptakan langit dan bumi agar (mahluknya) mengenal Allah, menyembahNya, mentauhidkanNya, menjadikan semua peribadatan mereka hanya kepada Allah, agar mereka hanya memberikan keta’atannya kepada Allah dan berdo’a hanya kepadaNya



Allah SWT berfirman : 
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan mizaan supaya manusia dapat melaksanakan keadilan”. (QS : Al Hadiid [57] :25).



Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberitahukan kepada kita bahwa sesungguhnya maksud dari diutusnya para rasul, dan diturunkannya kitab-kitab agar tegak keadilan dimana seagung-agung keadilan adalah tauhid yang dia adalah penghulu keadilan dan penegakan keadilan. Demikian juga (sebaliknya) kesyirikan adalah kedholiman.



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya kesyirikan adalah kedholiman yang paling besar“.(QS : Luqman [31] : 13).



Kesyirikan adalah bentuk kedholiman yang paling besar dan tauhid adalah keadilan yang paling adil maka semua hal yang merupakan pengingkaran terhadap maksud dan tujuan dari hal di atas merupakan dosa besar yang paling besar dan perbedaan derajat besar dosanya sesuai dengan pengingkaran terhadapnya. Demikian juga semua hal yang bersesuaian dengan tujuan ini merupakan kewajiban yang paling wajib dan bagian dari keta’atan-keta’atan.



Maka renungkanlah wahai para pendidik, bahwa hakikat dari pendidikan para nabi adalah pendidikan Tauhid dalam rangka mewujudkan peribadatan hanya kepada Allah semata, yang juga merupakan tugas kita yang sesungguhnya. Keberadaan lembaga pendidikan dengan segala ikhtiarnya adalah dalam rangka merealisasikan tujuan penciptaan manusia yaitu beribada kepada Allah semata.



Inilah sesungguhnya yang dimaksud dengan pendidikan berbasis tauhid. 



______________

*)Firdaus, S.Pd.I ; Pendidik Hidayatullah Bontang.
Share on Google Plus

HIDAYATULLAH BONTANG PEDULI

Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang menerima dan menyaluran zakat, infak, dan sedekah anda untuk program keummatan seperti penyantunan santri binaan kalangan yatim dan dhuafa dhuafa. Informasi lebih lanjut hubungi kami +62 821-7357-8845 atau melalui email bontang@hidayatullah.id